sultra.disway.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi melepas ekspor perdana 50 ton arang tempurung kelapa produksi Koperasi Desa Merah Putih Awunio (KDMP) ke China.
Komoditas unggulan dari Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) ini memiliki nilai ekspor mencapai Rp750 juta.
Momentum ini menjadi tonggak penting penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus mendorong percepatan sektor non-tambang Sultra.
BACA JUGA:Masa Depan Leon Goretzka Memanas: Leverkusen Mengintip, Klub Elite Eropa Siaga
KDMP Awunio Catat Sejarah Ekspor Mandiri
Wakil Gubernur Sultra, Hugua, yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Ekspor Sultra, menegaskan bahwa ekspor ini memiliki arti strategis bagi pengembangan koperasi desa.
Menurutnya, KDMP Awunio menjadi:
- Koperasi desa kedua di Indonesia yang berhasil melakukan ekspor mandiri
- Koperasi pertama di kawasan Indonesia Timur dengan capaian serupa
“Ekspor perdana ini menjadi tonggak penting penguatan ekonomi kerakyatan. Ini membuktikan koperasi desa mampu menembus pasar global,” ujarnya di Kendari, Sabtu.
Hugua menekankan pentingnya menjaga sustainability atau keberlanjutan pasokan ke pasar internasional. Kepercayaan pembeli luar negeri, kata dia, sangat bergantung pada konsistensi suplai dan kualitas produk.
BACA JUGA:Realme P4 Lite Resmi Meluncur, Baterai Jumbo Jadi Daya Tarik Utama
Arang tempurung kelapa asal Kolono dinilai memiliki daya saing tinggi karena:
- Bahan baku melimpah
- Kualitas pembakaran stabil
- Ramah lingkungan
- Permintaan global yang terus meningkat
Ekspor Non-Tambang Sultra Melonjak Tajam
Pelepasan ekspor ini juga menjadi indikator pertumbuhan signifikan sektor non-tambang Sultra.
Data nilai ekspor non-tambang:
- 2024: Rp11,1 miliar
- 2025: Rp16,37 miliar
- Januari–Februari 2026: Rp35 miliar
Hanya dalam dua bulan awal 2026, nilai ekspor non-tambang sudah melampaui total capaian tahun 2025 dengan kenaikan mencapai 113,8 persen.
BACA JUGA:Bocoran Realme C83 5G Menguat, Siap Ramaikan Segmen 5G Murah
Meski sektor tambang masih mendominasi dengan nilai Rp4,4 triliun, akselerasi produk non-tambang seperti kelautan, perikanan, dan perkebunan menunjukkan potensi besar diversifikasi ekonomi daerah.