BPBD Sultra mencatat total kejadian dan luasan kebakaran berasal dari 224 titik panas atau hotspot yang terdeteksi sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Puncak karhutla terjadi pada Juli 2026. Dalam satu bulan tersebut, terdeteksi sebanyak 105 titik hotspot, dengan sebagian besar berada di Kabupaten Bombana.
Luas lahan yang terbakar sepanjang Juli mencapai 1.586,59 hektare atau sekitar 66,8 persen dari total luas lahan terbakar selama tujuh bulan pertama tahun ini.
“Sepanjang Juli, luas lahan terbakar mencapai 1.586,59 hektare atau sekitar 66,8 persen dari total luasan lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli,” ujar Saifuddin.
Tingginya angka kebakaran pada Juli memperlihatkan bahwa periode musim kering menjadi masa yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya pencegahan karhutla.
BACA JUGA:Tim SAR Ditsamapta Polda Sultra Padamkan Kebakaran Lahan 1 Hektare di Poasia Kendari
Siapkan Mobil Tangki dan 22 Pompa Air
Menghadapi tingginya risiko kebakaran, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memperkuat kesiapsiagaan di daerah rawan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiagakan mobil tangki air di sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, Pemprov Sultra juga menyiapkan 22 unit alkon atau pompa air sentrifugal portabel untuk membantu mempercepat proses pemadaman.
Peralatan tersebut didistribusikan ke beberapa daerah, di antaranya:
- Kolaka Timur: 2 unit
- Kolaka: 2 unit
- Konawe Selatan: 5 unit
- Bombana: 5 unit
- Kendari: 4 unit
BACA JUGA:Edukasi Cegah Kebakaran di SMAN 09 Bombana, Satpol PP Latih Siswa Gunakan APAR
Khusus untuk Bombana, pemerintah juga menyiapkan pompa air jinjing yang dapat dibawa langsung mendekati titik kebakaran.
Menurut Saifuddin, peralatan portabel tersebut dinilai lebih praktis untuk digunakan di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan.
“Alkon jinjing lebih praktis karena bisa dibawa mendekati lokasi kebakaran dan dioperasikan dengan lebih mudah oleh masyarakat,” jelasnya.
Penanganan karhutla di Sulawesi Tenggara juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).
Sebanyak 27 unit alkon disiapkan untuk mendukung proses pemadaman di sejumlah daerah rawan kebakaran.