sultra.disway.id - Pernikahan usia dini ternyata tidak hanya berdampak pada kesiapan mental, melainkan juga menjadi salah satu pemicu utama lahirnya generasi stunting.
Menyadari bahaya laten tersebut, Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) mengambil langkah taktis dengan mengedukasi generasi muda secara masif.
Langkah ini mempertegas komitmen penuh jajaran eksekutif Kota Kendari. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari, Amir Hasan, menegaskan bahwa pencegahan stunting Kendari, penanggulangan kemiskinan, dan pengurangan angka pengangguran resmi menjadi fokus prioritas kebijakan pembangunan pada tahun anggaran 2026.
BACA JUGA:Tekan Angka Stunting dari Hulu, Pemkot Kendari Gandeng Kelurahan Cegah Pernikahan Dini
Amir mengingatkan bahwa stunting bukanlah masalah sepele. Dampaknya bersifat jangka panjang karena dapat menghambat perkembangan saraf, menurunkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, hingga meningkatkan risiko obesitas serta gangguan reproduksi di masa depan.
“Penanganan stunting adalah persoalan kompleks yang memerlukan kerja sama lintas sektor secara gotong royong. Remaja merupakan kelompok usia strategis yang memegang peran vital dalam memutus mata rantai ini,” tegas Amir Hasan saat membuka sosialisasi di Aula Samaturu, Kota Kendari.
Lebih lanjut, Amir memaparkan bahwa stunting sebenarnya adalah sebuah siklus yang berputar. Jika seorang calon ibu sudah mengalami malnutrisi atau kurang gizi sejak usia remaja—ditambah dengan adanya dampak pernikahan dini—maka potensi melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) akan melonjak tajam. Kondisi BBLR inilah yang menjadi pemicu utama stunting pada anak.
Oleh karena itu, Pemkot Kendari sangat mengapresiasi metode peer education atau edukasi teman sebaya. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan persuasif bagi anak muda untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga nutrisi sebelum kelak membangun rumah tangga.
BACA JUGA: Ada 12 Ribu Balita Berisiko Stunting di Kendari, Dinkes Lakukan Langkah Cepat Ini
Menekan Angka Pernikahan Anak di Kendari
Di sisi lain, Kepala DPPPA Kota Kendari, Fitriani Sinapoy, menjelaskan bahwa agenda krusial ini dilaksanakan berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) OPD serta Surat Keputusan Wali Kota Kendari Nomor 467 Tahun 2026.
Sosialisasi ini sengaja digenjot untuk menekan angka prevalensi stunting secara komprehensif, terutama di wilayah Kendari yang angka pernikahan usia anaknya tergolong masih cukup signifikan.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai urgensi pencegahan stunting, dampak pernikahan dini, serta pentingnya pemenuhan gizi seimbang selama masa pertumbuhan. Intervensi edukasi ini krusial agar para remaja memahami mitigasi risiko sejak dini,” urai Fitriani.
Gerakan ini terbilang inklusif karena melibatkan 76 peserta remaja pilihan. Mereka terdiri atas 65 remaja delegasi kelurahan se-Kota Kendari, 9 perwakilan Forum Anak, hingga kelompok penyandang disabilitas.
Melalui pembekalan intensif ini, mereka diproyeksikan untuk pulang ke lingkungan masing-masing dan bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) di tengah keluarga maupun komunitasnya.
Agar bekal mereka makin mantap, para peserta juga disuguhi materi inti mengenai kesehatan reproduksi dan gizi yang dikupas tuntas oleh pakar kesehatan, dr. Hasmirah, M.Kes. Dengan gerakan dari hulu ke hilir ini, Kota Kendari optimis dapat mencetak generasi masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.