Catatan BPS: Kinerja Ekspor dan Impor Sultra Meroket Tajam
--
sultra, disway.id - Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tenggara menunjukkan tren yang dinamis. Badan Pusat Statistik (sultra.disway.id/listtag/3040/bps">BPS) sultra mencatat nilai sultra.disway.id/listtag/1618/ekspor">ekspor Bumi Anoa pada Agustus 2026 menembus angka 342,86 juta dolar AS.
Angka ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 23,13 persen secara tahunan (year-on-year) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, menjelaskan bahwa lonjakan nilai ekspor ini turut didukung oleh kenaikan volume pengiriman barang sebesar 0,36 persen. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama penggerak pertumbuhan tersebut dengan memberikan andil terbesar hingga 23,29 persen.
Secara rinci, dominasi sektor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai 341,89 juta dolar AS atau berkontribusi sebesar 99,72 persen terhadap total ekspor Sultra. Sementara itu, sektor pertanian menyusul dengan sumbangan sebesar 0,97 juta dolar AS atau 0,28 persen.
"Peningkatan nilai ekspor pada Agustus 2026 ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang memberikan andil peningkatan terbesar, yakni 23,29 persen," ujar Hadi Susanto.
Jika ditarik secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2026, kelompok besi dan baja, khususnya feronikel, masih menjadi komoditas primadona yang memimpin hingga 98,28 persen dari total keseluruhan ekspor Sultra.
Posisi berikutnya disusul oleh komoditas perikanan seperti ikan dan udang (termasuk gurita segar dan beku) sebesar 1,24 persen, serta olahan daging dan ikan berupa rajungan sebesar 0,29 persen.
Untuk peta tujuan pasar, Tiongkok tetap kokoh sebagai negara mitra utama ekspor Sultra pada periode Januari hingga Agustus 2026. Nilai transaksi ke Negeri Tirai Bambu ini bahkan menyentuh angka 2.533,8 juta dolar AS atau menguasai 95,3 persen pangsa pasar, yang didominasi oleh feronikel. Adapun negara tujuan berikutnya adalah India (2,5 persen), Amerika Serikat (1,21 persen), Korea Selatan (0,63 persen), dan Puerto Riko (0,07 persen).
Di sisi lain, dinamika juga terjadi pada sektor impor. BPS mencatat nilai impor Sultra pada Agustus 2026 melonjak tajam sebesar 212,78 persen menjadi 318,86 juta dolar AS dibanding Agustus 2025, yang selaras dengan kenaikan volume impor sebesar 78,93 persen. impor tersebut didominasi oleh kelompok bahan baku/penolong sebesar 229,98 juta dolar AS (72,12 persen), barang modal sebesar 88,23 juta dolar AS (27,67 persen), serta barang konsumsi sebesar 0,65 juta dolar AS (0,21 persen).
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026, komoditas utama yang diimpor meliputi mesin-mesin atau pesawat mekanik (38,97 persen), bahan bakar mineral berupa bensin RON 90–97 (38,9 persen), serta peralatan listrik (5,56 persen). Tiongkok juga tercatat sebagai negara asal impor terbesar dengan porsi 56,75 persen (1.494,38 juta dolar AS), diikuti oleh Singapura (20,77 persen) dan Malaysia (9,44 persen).
Kendati impor mengalami lonjakan yang cukup signifikan, neraca perdagangan barang Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 dipastikan tetap berada di zona hijau dengan membukukan surplus sebesar 24 juta dolar AS.
Sumber: