Cadangan Beras Tembus 5,1 Juta Ton, Indonesia Siap Hadapi Dampak El Nino
Beras bulog--ist
sultra.disway.id - Pemerintah memastikan benteng ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi sangat kokoh di tengah ancaman perubahan iklim global dan potensi fenomena El Nino.
Saat ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog berhasil menembus angka 5,1 juta ton—salah satu pencapaian stok beras tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketersediaan stok yang melimpah ini menjadi modal vital pemerintah. Selain untuk menjaga stabilitas harga di pasar, stok ini disiapkan untuk meredam risiko gangguan produksi akibat cuaca ekstrem.
BACA JUGA:Kekeringan Meluas di Sultra, 11 Daerah Siaga Darurat dan Ribuan Hektare Sawah Padi Terdampak
"Stok kita sekarang, meski ada El Nino, tertinggi. Alhamdulillah cadangan kita tertinggi selama Republik ini berdiri, yaitu 5,1 juta ton," ujar Amran di Jakarta.
Ancaman El Nino yang memicu penurunan curah hujan berpotensi menekan kapasitas produksi sektor pertanian nasional.
Ditambah lagi, harga beras dunia di pasar internasional yang terus merambat naik membuat banyak negara mulai membatasi ekspor pangan.
Dalam situasi ketidakpastian global ini, ketersediaan CBP tidak hanya difungsikan untuk konsumsi harian, tetapi juga sebagai:
- Cadangan darurat saat terjadi bencana alam atau krisis pangan.
- Instrumen intervensi untuk meredam gejolak harga di tingkat pasar domestik.
- Penyangga pasokan apabila terjadi penurunan hasil panen akibat kekeringan.
BACA JUGA:Ancaman El Nino 2026 Mengintai, Pemprov Sultra Andalkan Pompanisasi Selamatkan Pertanian
Mengelola komoditas beras di Indonesia membutuhkan kehati-hatian ekstra. Amran mengakui bahwa pemerintah harus berdiri di tengah-tengah untuk menjaga keseimbangan kepentingan tiga pihak utama: konsumen, petani, dan pelaku usaha.
Konsumen: Membutuhkan harga yang terjangkau agar daya beli tetap terjaga.
Petani: Membutuhkan harga jual yang layak agar tidak merugi.
Pengusaha: Membutuhkan kepastian marjin bisnis dalam rantai pasok.
"Ketika harga naik, konsumen marah. Harga turun, petani marah. Harga sedang-sedang, pengusaha marah. Jadi begitu berat bebannya pemerintah," ungkap Amran.
Sumber: