Rupiah Tembus Rp17.500, Alarm Bahaya Subsidi BBM Menyala!
Harga BBM--
sultra.disway.id - Pasar keuangan dalam negeri diguncang sentimen negatif. Nilai tukar rupiah secara mengejutkan melampaui level psikologis baru dengan menembus angka Rp17.500 per dolar AS.
Level ini menjadi titik terlemah dalam sejarah yang memicu kekhawatiran sistemik terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama pada sektor subsidi energi.
Berdasarkan data perdagangan Rabu (13/5/2026), mata uang Garuda sempat menyentuh angka Rp17.515 per dolar AS.
Meski menunjukkan penguatan tipis dibanding penutupan sebelumnya di angka Rp17.529, posisi ini tetap menempatkan ekonomi Indonesia dalam zona merah. Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi maut konflik geopolitik global dan lonjakan harga energi dunia yang tak terkendali.
BACA JUGA:Harga Solar Naik, Ini Cara Hemat BBM untuk Mobil Diesel yang Wajib Diketahui
Kementerian ESDM Gelar Rapat Darurat
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung bergerak cepat. Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah melakukan kajian kilat mengenai dampak pelemahan kurs terhadap anggaran subsidi energi.
"Kondisi ini sudah masuk dalam radar utama. Pak Menteri bersama jajaran menteri ekonomi sedang melakukan pembahasan intensif untuk menghitung potensi beban subsidi yang membengkak," ujar Laode saat ditemui di Jakarta.
Dilema BBM: Beban Negara vs Daya Beli
Pelemahan rupiah secara otomatis melambungkan biaya impor minyak mentah. Pertanyaan besar pun muncul di tengah masyarakat: Apakah harga BBM subsidi akan segera naik?
Hingga saat ini, pemerintah masih berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, beban APBN terancam jebol akibat selisih kurs. Di sisi lain, menaikkan harga BBM di tengah tren pelemahan ekonomi adalah risiko besar bagi daya beli rakyat.
BACA JUGA:Ini Daftar Harga LPG Terbaru, Usai BBM Nonsubsidi Naik
"Belum ada keputusan final terkait penyesuaian harga. Semua opsi masih dikaji secara mendalam," tegas Laode menanggapi isu kenaikan harga.
Namun, publik sedikit bernapas lega setelah muncul sinyal tegas dari Istana Negara. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah memberikan instruksi khusus kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menjaga stabilitas harga energi.
Menteri Bahlil menegaskan bahwa arah kebijakan Presiden sangat jelas: Harga BBM subsidi tidak boleh naik hingga akhir tahun 2026.
"Stok energi kita dalam posisi aman. Atas arahan langsung Bapak Presiden, pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi guna menjaga stabilitas sosial dan ekonomi," ujar Bahlil dalam keterangan resminya.
Sumber: