Ancaman El Nino 2026 Mengintai, Pemprov Sultra Andalkan Pompanisasi Selamatkan Pertanian
Ilustrasi kekeringan--
sultra.disway.id - Menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino pada 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mulai bergerak cepat.
Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah program pompanisasi—solusi irigasi modern yang dinilai efektif menjaga pasokan air bagi lahan pertanian.
Melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara, pemerintah memastikan langkah antisipasi ini dilakukan sejak dini agar dampak kemarau panjang tidak mengganggu produksi pangan.
Pelaksana Tugas Kepala Distanak Sultra, Muhammad Taufik, menjelaskan bahwa pompanisasi memungkinkan petani mengalirkan air langsung dari sungai atau sumur ke lahan yang terdampak kekeringan.
“Langkah ini menjadi solusi cepat dan efektif, terutama saat curah hujan menurun drastis akibat El Nino,” ujarnya di Kendari, Selasa.
Strategi Hadapi Kekeringan, Produksi Pangan Jadi Taruhan
Fenomena El Nino diprediksi akan melanda wilayah Sultra dengan intensitas lemah hingga moderat. Meski tidak ekstrem, dampaknya tetap berpotensi menekan produksi pertanian jika tidak diantisipasi dengan tepat.
Selain pompanisasi, pemerintah juga mendorong petani untuk menggunakan varietas padi yang lebih tahan kekeringan serta menyesuaikan jadwal tanam lebih awal. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas produksi dan mencegah penurunan hasil panen.
“Kalau tidak diantisipasi, produksi bisa turun dan berpengaruh pada target swasembada pangan daerah,” tegas Taufik.
BACA JUGA:Menilik Kehebatan OnePlus Nord CE 6 Lite yang Bakal Meluncur: Performa Buas!
Stok Pangan Masih Aman, Sultra Bahkan Bisa Suplai ke Luar Daerah
Di tengah potensi ancaman iklim, kabar baik datang dari sisi ketahanan pangan. Pemerintah memastikan stok beras di Sultra masih dalam kondisi aman.
Penyerapan gabah oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) terus dioptimalkan, bahkan gudang-gudang penyimpanan disebut telah terisi penuh. Tak hanya mencukupi kebutuhan lokal, Sultra juga masih mampu menyuplai beras ke wilayah lain.
BMKG Ingatkan Puncak Kemarau Agustus–Oktober 2026
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Sulawesi Tenggara akan mulai terasa pada Juni hingga Agustus 2026, dengan puncaknya berlangsung antara Agustus hingga Oktober.
Prakirawan BMKG, Nur Wiryanti Sih Antomo, mengingatkan para petani dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi El Nino yang mulai berkembang sejak Mei.
Sumber: