Program 'Kolaka Keren' Diluncurkan, Pemkab Kolaka Fokus Tekan Stunting Secara Tepat Sasaran
Ilustrasi--ist
sultra.disway.id - Pemerintah Kabupaten Kolaka menghadirkan terobosan baru dalam upaya menekan angka stunting.
Melalui program bertajuk “Kolaka Keren” (Kendalikan Stunting Berbasis Risikonya Nyata), penanganan kini difokuskan langsung pada keluarga yang paling berisiko.
Langkah ini dinilai lebih efektif karena berbasis data detail dan intervensi yang terukur di lapangan.
BACA JUGA:Menaker Yassierli Terbitkan Aturan WFH Sehari Seminggu untuk Swasta
Fokus pada Keluarga Berisiko Stunting
Menurut Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP&KB) Kolaka, Muhammad Aris, pendekatan terbaru ini menggunakan sistem by name by address.
Artinya, setiap keluarga yang berisiko stunting didata secara spesifik sehingga intervensi bisa dilakukan secara langsung dan tepat sasaran.
“Data ini membantu kami mengidentifikasi faktor risiko secara detail, mulai dari gizi, sanitasi, hingga kondisi ekonomi dan pola asuh,” jelasnya di Kolaka.
Hampir 4.000 Keluarga Masuk Kategori Risiko
Berdasarkan data terbaru, terdapat 3.947 keluarga berisiko stunting (KRS) yang tersebar di 12 kecamatan.
Wilayah dengan jumlah tertinggi antara lain:
- Latambaga: 821 keluarga
- Watubangga: 437 keluarga
- Kolaka: 433 keluarga
- Wolo: 414 keluarga
BACA JUGA:PPPK Bakal Segera Dirumahkan, Ini Penjelasan Gubernur Sultra
Program ini memastikan setiap keluarga tersebut mendapatkan pendampingan lebih awal untuk mencegah stunting pada anak.
Intervensi Berdasarkan 6 Indikator Utama
Melalui program Kolaka Keren, intervensi tidak lagi bersifat umum. Pemerintah fokus pada enam indikator utama yang menjadi penyebab stunting, di antaranya:
- Ketersediaan jamban sehat
- Akses air bersih
- Kepatuhan terhadap protokol 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, dan jarak kelahiran terlalu dekat)
Pendekatan ini membuat penanganan lebih terarah dan berdampak nyata.
Tantangan: ASI Eksklusif Rendah & Pernikahan Dini Tinggi
Selain faktor sanitasi dan kesehatan, Pemkab Kolaka juga menghadapi tantangan serius, yaitu:
- Cakupan ASI eksklusif baru mencapai 40%
- Angka pernikahan dini masih tinggi, sekitar 30%
Sumber: